Senin, 03 Oktober 2016

Tuhan Yesus Mengasihimu


             Tuhan Yesus Mengasihimu

Setiap hari minggu, setelah ibadah gereja, pendeta dan anak laki-lakinya yang berusia 11 tahun turun ke jalan di kota tersebut untuk membagikan traktat. Minggu siang adalah waktu penting buat pendeta dan anaknya untuk turun ke jalan untuk membagikan traktat, sementara cuaca di luar sangat dingin karena hujan. Sang anak memakai pakaian hangat sambil berkata, “okay, ayah, aku telah siap.”
   Sang ayah yang adalah pendeta bertanya “siap untuk apa?” “Ayah, saat ini adalah waktu untuk keluar dan membagikan traktat bersama-sama.” Jawab sang ayah, “anakku, cuaca di luar sangat dingin dan hujan.” Si anak memandangi ayahnya dengan penuh keheranan sambil bertanya “bukankah orang-orang itu sedang menuju neraka, meskipun di luar sedang turun hujan?” Ayah menjawab “anakku, aku tidak akan pergi dengan cuaca seperti ini. Maka, si anak langsung meminta kepada ayahnya “ayah, bolehkah aku pergi sekarang?” Ayah merasa bimbang sesaat dan akhirnya ayah mengucapkan kalimat “anakku, kau boleh pergi. Ini traktatnya. Hati-hatilah di jalan.” “Terima kasih, ayah!” Lalu si anak pergi
Anak laki-laki berusia 11 tahun turun ke jalan di kota tersebut, mengetuk pintu dari rumah ke rumah dan memberikan traktat kepada semua orang yang dijumpainya. Setelah 2 jam membagikan traktat, kaki si anak semakin beku hingga traktat terakhir. Dia berhenti di sebuah pojok jalan sambil mencari seseorang untuk yang akan diberi traktat terakhirnya. Namun jalan tersebut sangat sunyi. Lalu dia kembali ke rumah pertama yang diketuknya. Dia membunyikan bel, tetapi tak seorangpun membukakannya. Dia membunyikan bel lagi dan tak seorangpun yang membukakan pintu. Dia terus menunggu tanpa jawaban. Akhirnya anak itu berbalik untuk meninggalkan rumah itu, tetapi tiba-tiba ada yang menghentikannya. Kembali dia berbalik ke arah pintu, membunyikan bel dan mengetuk pintu dengan kepalan tangannya. Dia menunggu dan tiba-tiba pandangannya tertuju kepada sebuah beranda depan rumah itu. Dia membunyikan bel dan pintu perlahan terbuka. Di pintu tersebut berdirilah seorang wanita tua dengan kesedihan yang sangat dalam.
Wanita tersebut “apa yang bisa kulakukan untukmu?”  Dengan pandangan lugu dan senyuman, anak itu berkata “ibu, maafkan jika aku mengganggumu, tetapi aku hanya ingin mengatakan kepadamu bahwa TUHAN YESUS SANGAT MENGASIHIMU dan aku datang untuk memberikan traktat terakhirku yang berkata tentang Tuhan Yesus dan kasih-Nya yang besar. Setelah memberi traktat, anak itu meninggalkannya. Wanita itu berkata “terima kasih! Tuhan memberkatimu!”
Pada hari minggu berikutnya, wanita tua itu hadir di gereja di mana sang anak laki-laki memberi traktat. Wanita tua itu bersaksi bahwa sesungguhnya pada hari disaat anak laki-laki membunyikan bel pintu rumah, dia berniat untuk bunuh diri karena kesepian yang dialaminya. Kesepian itu diakibatkan karena suami yang sangat dikasihinya telah meninggal dunia dan tidak seorangpun yang datang ke rumah wanita setelah kepergian sang suami.
Secara pribadi wanita tua tersebut mengucap syukur kepada Tuhan dengan berkata “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah mengutus seorang malaikat kecil tepat pada waktunya menjelang aku melakukan gantung diri yang akan menyebabkan kematian kekal di neraka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar